Jumat, 28 September 2012

Nurcholis Madjid Dan Abdurrahman Wahid Tentang Islam,Politik Dan Masalah Kenegaraan A. PENDAHULUAN


NAMA : ZAINAL MASRI
MATERI : PPMDI

Nurcholis Madjid Dan Abdurrahman Wahid Tentang Islam,Politik Dan Masalah Kenegaraan

A.    PENDAHULUAN
Sebagian masyarakat di dunia didapatkan dimensi Agamanya semakin meningkat yang ditandai makin maraknya kegiatan-kegiatan keagamaan. Namun,pada bagian yang lain didapatkan dimensi agamanya menghilang. Tidak ada lagi dimensi spritual yang suci. Merosotnya Iman pada proses sekularisasi, hidup menjadi remeh dan tidak bermakna dan tidak bergelimang harta. Selain itu muncul tanda-tanda kehancuran nilai moral yang meningkat.
Ketidak berdayaan manusia bermain dalam pentas peradaban modern terus melaju tanpa dapat dihentikan yang menyebabkan sebagian manusia modern itu terperangkap dalam situasi, manusia sudah kehilangan makna, manusia kosong. Ia resah setiap kali mengambil keputusan, tidak tahu apa yang di ingikan dan tidak tahu dalam memilih jalan hidup yang di inginkan.
Memperhatikan tantangan umat Islam yang harus dihadapi, maka perlu pembaharuan pemikiran umat Islam itu untuk menghadapi tantangan kemajuan zamanagar umat islam baik dari segi peradaban maupun politik tidak tersingkir.
Dalam pembaharuan pemikiran Islam ini penulis akan menampilkan tokoh yang melakukan pembaharuan tesebut, diantarnya Nurcholis Madjid dan Abdurrahma Wahid.







B.     PEMBAHASAN
1.      NURCHOLIS MADJID (Cak Nur)
a.       Riwayat hidup Nurcholis Madjid
Nurcholis Madjid lahir pada tanggal 17  maret 1939 bertepatan dengan 26 Muharram 1358 H. Di jombang,jawa timur, dari kalangan-kalangan pesantren yang taat menjalankan Agama. Pendidikanya mulai dari sekolah rakyat di Majoanyar pada pagi hari. Sedangkan sore hari ia sekolah di Madrasah Ibtidaiyah di Majoanyar. Setelah menamatkan sekolahnya di Ibtidaiyah, ia melanjutkan belajar ke pesantern Darul Ulum di Rejosa, Jombang. Setelah itu ia melanjutkan pendidikannya di Kulliyatul Mu’allimin Al-Islamiyah (KMI) pesantern Darussalam di gontor ponogoro.
Setamat dari Gontor ia melanjutkan studi pada institut Agama Islam Universitas Islam Negri (UIN) Syarif Hidayatul Jakarta, pada Fakultas Adab, Jurusan sastra arab dan tamat tahun 1968. Pendidikan selanjutnya ia lakukan di Universitas Chacigo, Illinois, Amerika Serikat dan berhasil meraih gelar doktor dalam bidang Islmic Thougt (pemikiran islam) pada tahun 1984. Semasa jadi mahasiswa Nurcholis Madjid banyak melakukan kegiatan di berbagai organisasi. Ia pernah menjadi ketua umum mahasiswa islam (HMI) cabang ciputat pada tahun 60-an, kemudian menjadi ketua umum pengurus besar HMI selama periode 1966-1969 dan 1967-1971.
Setamat dari IAIN Syarif Hidayatul jakarta, Nurcholis Madjid bekerja sebgai dosen di almamaternya, mulai tahun 1972-1976. Setelah berhasil meraih gelar doktor pada tahun 1985, ia ditugaskan memberikan kuliah tentang filsafat di Fakultas Pasca Sarjana IAIN Syarif Hidayatul Jakarta. Selain sebagai orang yang banyak berkicampung di organisasi dan memangku berbagai jabatan,  Nurcholis Madjid juga sebagai seseorang penulis yang produktif. Diantara karya tulisnya yang dapat disebut disini adalah sebagai berikut:[1]
1)      Khazanah intelektual Islam, (Jakarta, Bulan Bintang 1984)
2)      Islam Kemordenan dan Keislaman (Bandung, Mizan 1987)
3)      Islam Doktrin dan Peradaban, Sebuah Telaah Kritis tentang Masalah Keimanan, Kemanusiaan dan Kemordenan, (Jakarta, Yayasan Wakaf Paramadina 1992 )
4)      Kontekstualisasi Doktrin Islam dalam Sejarah (Karya bersama para pakar Indonesia lainya), (Jakarta, Yayasan Wakaf Paramadina  1995)
5)      Pintu-Pintu Menuju Tuhan (Jakarta, Yayaysan Wakaf Paramadina  1995)
Selanjutnya sejak tahun 1986 Nurcholis Madjid mendirikan dan memimpin Yayasan Wakaf Paramadina dengan kegiatan yang mengarah kepada gerakan intelektual Islam indonesia. Berdasarkan informasi tersebut diatas, kita dapat mencatat tentang pribadi Nurcholis Madjid sebagai berikut,
a)      Dilihat dari segi latar belakang keluarganya, Nurcholis Madjid adalah seorang cendikiawan yang memliki basis kesantrian atau pesantren yang kuat, yaitu suatu komunitas Islam yang kental dengan pelaksanaan Ibadah dan tradisi keislaman.
b)      Dilihat dari segi basis keilmuanya, Nurcholis Madjid adalah seorang cendikiawan Muslim yang memiliki keahlian dalam bidang ilmu agama Islam yang luas dengan titik tekan pada sejarah peradaban Islam, sesuai dengan latar belakang pendidikan kesarjanaan , yakni sebagai tamatan dari Fakultas Adab UIN Syarif Hidayatul Jakarta.
c)      Dilihat dari segi sifat dan corak pemikiranya, terlihat bahwa corak dan pemikiran Nurcholis Madjid bersifat modern dengan tetap mengacu kepada nilai-nilai dasar ajaran Islam sebagai mana terdapat dalam Al-Qur’an dan sunnah, serta nilai-nilai budaya bangsa Indonesia.[2]
d)     Dilihat dari segi kepribadian, Nurcholis Madjid adalah sosok cendekiawan muslim yang sederhana dan bersahaja serta berpenampilan rendah hati. Hal ini terlihat dari cara betutur kata, berpakaian, bergaul. Dan juga memiliki kelompok dikalangan kaum muda Islam dan berkomitmen yang kuat ikut serta dalam mengkritisi berbagai kebijakan pemerintah atau siapa saja yang menyebabkan orang lain terzalimi.


b.      Gagasan dan Pemikiranya
1)      Tentang Islam
Corak dan pemikiran Nurcholis Madjid bersifat modern dengan tetap mengacu kepada nilai-nilai dasar ajaran Islam, sebagaimana terdapat dalam Al-Qur’an dan Sunnah, serta nilai-nilai dasar budaya indonesia.[3] Adapun pemikiran dan gagasan Nurcholis Madjid dalam bidang pendidikan Islam adalah sebagai berikut:
a)      Sesuai dengan latar belakang kehidupanya sebagaimana tersebut diatas, yaitu sebagai seorang cendikiawan yang dibesarkan dilingkungan pesantren, Nurcholis Madjid memiliki perhatian tentang pembaharuan pesantren. Gagasan dan pemikiranya tentang pesantern ini dapat dilihat dalam karyanya yang berjudul Bilik-bilik Pesantern Sebuah Potret Perjalanan. Dalam bukunya ini Nurcholis Madjid berpendapat bahwa pesantern berhak, malah lebih baik dan lebih berguna, mempertahanan fungsi pokoknya semula, yaitu sebagai tempat yang menyelenggarakan pendidikan agama. Pelajaran-pelajaran ini dapat diberikan melalui cara, diantaranya adalah sebagai berikut:
                                            i.            Mempelajari Al-Qur’an dengan cara yang lebih sungguh-sungguh dari pada yang umumnya dilakukan orang sekarang, yaitu dengan menitik beratkan pemahaman makna dan ajaran-ajaran yang terkandung didalamnya.
                                          ii.            Melalui pertolongan sebuah bahan bacaa atau buku pegangan. penggunaan cara ini sangat tergantung pada kemampuan para pengajar dalam mengembangkan secara lebih luas.
                                        iii.            Selain itu baik sekali memanfaakan mata pelajaran lain untuk disisipi pandangan keagamaa tadi. Dan menanamkan kesadaran untuk penghargaan yang lebih wajar pada hasil-hasil seni budaya islam atau untuk menumbuhkan kepekaan rohani, termasuk kepekaan rasa keuhanan yang menjadi inti rasa keagamaan.
b)      Peningkatan pengamalan Agama, menurut Nurcholis Madjid bahwa sekarang yang paling penting untuk diperhatikan adalah masalah bagaimana agar “taat menjalankan agama”, tidak berhenti dan terbatas hanya pada pelaksanaan segi-segi simbolik , seperti Ibadah.
c)      Perpustakaan mesjid. Nurcholis Madjid kini semakin terasa adanya tuntutan agar mesjid-mesjid dilengkapi dengan perpustakaan, dengan simpanan buku-buku  atau kitab-kitab yang bakal mampu memperkaya perbendaharaan kaum muslimin.
d)     Pendidikan Agama dalam rumah tangga. Menurut Nurcholis Madjid, bahwa pendidikan Agama sesungguhnya adalah pendidikan untuk pertumbuhan total seorang anak didik. Menurutnya pendidikan Agama akhirnya menuju kepada penyempurnaan berbagai keluhuran budi.
e)      pendidikan akhlak. Sejalan dengan pentingnya pendidikan Agama dalam lingkungan keluarga yang ditekankan pada pengalaman ajaran Agama terkait erat dengan etika, moral dan akhlak. Untuk itu Nurcholis Madjid memiliki perhatian yang luar biasa, agar umat Islam memiliki komitmen terhadap tegaknya etika, moral dan akhlak.
f)       Pesan-pesan takwa. Seiring dengan komitmennya pada pendidikan keagamaan yang tertumpu pada penanaman dan pembiasaan akhlak yang mulia dalam kehidupan sehari-hari, Nurcholis madjid banyak mengungkapkan pesan-pesan takwa. Dengan mengacu pada bagian pertama surat Al-Baqarah yang mengatakan bahwa sifat-sifat utama kaum bertakwa itu adalah sebagai berikut:
                                                                    i.            Beriman kepada yang ghaib
                                                                  ii.            Menegakkan shalat
                                                                iii.            Mendermakan sebagian dari harta yang dikaruniakan tuhan kepada mereka
                                                                iv.            Beriman kepada kitab suci yang dikaruniakan kepada Nabi Muhammad Saw.
                                                                  v.            Beriman kepada kitab suci yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW
                                                                vi.            Yakin akan hari kemudian.[4]
2)      Pengalaman Religius Pribadi
Kita sering mendengarkata bahwa agama itu urusan pribadi. Ungkapan semacam itu muncul menguat di Barat. Dalam konteks barat, ungkapan tersebut dimanfaatkan untuk melepaskan agama dari urusan sosial. Jadi dalam ungkapan “agama urusan pribadi “ terselip penolakan tentang keterlibatan agama dalam urusan sosial, terutama menyangkut masalah- masalah politik. Namun anggapan tersebut tidaklah sepenuhnya benar. Karena agama adalah petunjuk jalan untuk menentukan suatu perbuatan baik atau salah.
Dalam agama Islam pengalaman- pengalaman pribadi itu diharapkan bahkan diharuskan untuk mengejawantah menjadi suatu komoitmen sosial. Bisa kita kaitkan dengan rutinitas kita setiap hari, seperti shalat yang kita laksanakan setiap hari. Dimulai melafalkan Allah-u Akbar berarti kita telah membuka komunikasi secara sangat pribadi dengan Allah SWT. Allahu Akbar adalah lambang dari iman, taqwa, iklas, segala sesuatu yang bersifat pribadi.
Namun tidak berarti kita menutup mata dengan keadaan sosial kita. sebagaimana dipertegas dengan gerakan sholat kita gerakan terakhir shalat melakukan salam dengan melengol ke kanan dan kekiri. ini menandakan bahwa setelah khusyu’ berkomunikasi denagn lingukan social kita.[5]
Berarti kita sebagai orang Islam disamping kita mengurusi kehidupan pribadi masing – masing, kita juga memikirkan dan ikut serta masalah masyarakat sekitar. Karena itu adalah perintah yang terdapat dalam alqur’an dan hadits. Agar kita menjadi insan kamil.

3)      Politik
Pemikiran Nurcholis Madjid yang sempat menggerakkan kalangan umat Islam adalah menganjurkan suatu keharusan sekularisme dalam Islam. Menurutnya, sekularisme berarti pembebasan manusia dari kungkungan kultural, pemikiran keagamaan yang membelengu dan menghalangi manusia untuk berfikir kritis dalam memahami realitas. Sekularisme digambarkan sebagai jalan tempat untuk mengembalikan esensi ajaran islam ke wilayahnya yang haikiki.
Sikap ini mengandaikan bahwa umat islam sudah tidak sanggup lagi membedakan anatara nilai-nilai transendental dan temporal. Bahkan hirarki nilai itu sering terbalik seluruh realitas bersifat “Transendental”, demikian digambarkan Cak Nur.[6]
Selain paham sekularisme, Nurcholis Madjid juga membawa paham “Islam Yes”, Partai lslam No”, Jika partai-partai Islam itu merupakan wadah ide-ide yang hendak diperjuangkan berdasarkan Islam, maka ide-ide itu dalam keadaan tidak menarik. Dengan perkataan lain, ide-ide dan pemikiran Islam itu sedang menjadi absolut memfosil, dan kehilangan dinamika.
Penolakan terhadap partai Islam atau negara Islam bertolak dari pengertian hakikat Islam itu sendiri. Dalam konteks tersebut, Nurcholis Madjid menggambarkan bahwa pengertian Islam hakiki bukanlah struktur atau kumpulan hukum, yang bisa melahirkan formalisme agama, tetapi islam sebagai pengejawatan tauhid yang bisa melahirkan jiwa yang hanif, terbuka, demokratis atau paling tidak mampu menempatkan dirinya dalam konfigurasi pluralistik.
Persoalan Islam dan politik, memang merupakan persoalan yang akan terus – menerus actual, Sejalan dengan pandangan yang sangat dikenal para ahli Islam, bahwa Islam lebih dari sekedar sistem teologi, tetapi ia merupakan system kehidupan yang lengkap. Agama adalah wewenang shahib al – syari’ah (pemilik syari’ah) yaitu Rasulullah melalui wahyu dari Allah SWT. Sedangkan politik adalah wewenang kemanusian, khususnya sepanjang menyangkut masalah- masalah teknis dan procedural, yang menuntut peranan ijtihad manusia.
Dari segi sejarah, ini mengesankan tidak ada sebuah sistem yang monolitik mengenai bentuk Negara dalam Islam. Tetapi ini bukan membenarkan bahwa antara Islam dan politik itu terpisah sama sekali, seperti pemahaman para sekularis, sebab dalam Islam, secara mendasar antara Islam dan politik mempunyai keterkaitan, dan keterkaitannya itu terutama dari segi etisnya, khususnya menyangkut pertanyaan “ untuk apa “ yang menjawab masalah ini tidak dibenarkan lepas dari pertimbangan nilai- nilai keagamaan.
Dalam konteks pandangan inilah Islam membenarkan belajar dan mencontoh siapa saja termasuk dari mereka yang bukan- muslim, asalkan nuktah-nuktah pentingnya tidak bertentangan dengan nilai- nilai dasar Islam. Misalnya, menyangkut masalah demokrasi, yang dewasa ini meskipun diakui banyak kekurangannya, adalah suatu warisan kemanusiaan yang tiada ternilai harganya, yang sampai sekarangpun belum ditemukan alternative yang lebih baik dalam hal cara penataan kehidupan berpolotik.[7]
4)      Masalah Kenegaraan
Aspirasi Negara islam yang didukung oleh partai – partai Islam dahulu, tidak ada lagi. Tapi itu tidak menutup kemungkinan adanya sebuah Negara yang dijiwai oleh ajaran- ajaran agama yang lain. Jadi di Indonesia pun tidak mustahil terjadi.  Karena semata – mata dengan memperhitungkan mayoritas orang Indonesia beragama Islam, maka nilai yang paling baik mewarnai adalah nilai Islam. Tetapi nilai Islam yang dapat berlaku pada dataran nasional itu hanya nilai Islam yang bisa, dan orang Islam sanggup merumuskannya secara universal dan inklusivistik. karena itu orang tidak bicara tentang Negara Islam lagi. Negara Islam itu ekslusif tidak inklusif. Tetapi orang islam sekarang bicara tentang keadilan, persamaan antar manusia, hak pribadi, yang semuanya ada dalam ajaran Islam namun iklusif.
Jadi Indonesia dengan UUD 1945 dan Pancasila tidak mustahil berkembang seperti itu, menjadi suatu bangsa yang dijiwai oleh nilai – nilai atau ajaran- ajaran yang berasal dari Islam. Tetapi nilai- nilai seperti itu harus merupakan nilai – nilai yang sudah diuniversalkan, sekurang – kurangnya dalam ungkapannya. sesungguhnya Islam selalu mengungkapkan bahwa Islam adalah untuk semesta alam, untuk kebaikan semua orang. Rahmat- an lil alamin. Jadi bukan untuk kebaikan orang Islam sendiri. Itu berarti nilai – nilai Islam bisa dilaksanakan bagi seluruh manusia, sehingga yang memanfaatkannya tidak hanya orang Islam itu sendiri, tapi semua orang. Misalnya menciptakan kemakmuran itu suatu nilai, disebut Islam atau tidak, nilai itu adalah suatu kebaikan nilai itu. Menciptakan keadilan dan demokrasi.[8]
Mengenai masalah kenegaraan ini Nurcholis Madjid memamdang dengan sikap negara Islam. Ide-ide Cak Nur muda tentang konsep negara islam yang dikatakanya bahwa Al-Qur’an tidak memberikan definisi atau muatan operasional tentang mendirikan suatu negara berazazkan Islam, dan itu terlihat dalam perkembangan sejarah kenegaraan dalam Islam.
Cak Nur memandang bahwa masalah negara adalah masalah material yaitu bersifat duniawi, masal dengan muatan dimensi rasional dan kolektif. Suatu negara tidak mungkin menempuh dimensi spritual terhadap megawasi dam memotifasi bathin Negara, maka tak mungkin pula memberikan predikat keagamaan pada Negara itu.
Semua pemikiran modernisasi Nurcholis Madjid, titik tolaknya adalah konsep tauhid, yang menurutnya mempunyai konsep pembebasan tidak lain adalah kemurnian kepercayaan kepada tuhan itu sendiri. Pertama harus melepaskan diri dari kepercayaan yang palsu , dan Kedua dengan memusatkan kepercayaan hanya kepada yang benar.
Ide sekularisme atau devaluasi radikal yang dianjurkan Nurcholis Madjid secar garis besar telah memisahkan masalah urusan dunia dan ukhrawi, diantaranya adalah sebagai berikut:
a)      Persoalan dunia cukup diurus oleh ilmu dan kemampuan akal rasional
b)      Lebih mementingkan komunikasi psikologi spritual
c)      Pemisahan secara jelas wilayah yang sakral dan wilayah yang temporal.[9]

2.      K.H. Abdurrahan wahid
a.       Riwayat hidup  K.H Abdurrahman Wahid
Abdurrahman Wahid yang lengkap di panggil Gus Dur, dan dengan nama lengkap Abdurrahman Addakil, lahir pada tanggal 14 agustus 1940, didenanyor, jombang. Ia anak pertama dari 6 bersaudara, ayahnya bernama Wahid Hisyam, adalah putra K.H Hasyim Asy-Ari, pendiri pondok pesantern Tebu Ireng dan pendiri Nahdatul Ulama  (NU), K.H Bisyri Syamsuri, pendiri pondok pesantern denayor jombang dan Ro’is Am Syuriyah pengurus besar Nahdatul Ulama (PBNU) setelah K.H Abdu Wahab.
Secara geneologi, Abdurrahman Wahid memiliki keturunan “ darah biru”, dan menurut Cliffort Geerz, ia termasuk golongan santri dan priyayi sekaligus. Baik dari keterunan ayah maupun ibunya, Abdurrahman Wahid adalah sosok yang menempati strata sosial tertinggi dalam masyarakat Indonesia. Ia adalah cucu dari dua ulama terkemuka NU dan tokoh terbesar dai bangsa Indonesia. Kekeknya, Kiai Bisyri Syamsuri dan Kiai Hasyim Asy-Ari sangat dihormati dikalangan NU, baik kerena peranya sebagai pendiri Nahdatul Ulama, maupun karena kedudukannya sebagai ulama karismatik.
Pada masa kecilnya, Abdurrahman Wahid tidak seperti kebanyakan  anak-anak seusianya. Ia lebih memlilih tinggal kakeknya dari pada tinggal bersama ayahnya. Melalui kakeknya, ia belajar membaca Al-qur’an di pondok pesantern tebu ireng, jombang. Berkat tinggal bersama kakeknya yang merupakan tokoh yang banyak dikunjungi tokoh-tokoh politik dan orang-orang penting lainya, maka dari sejak kecil Abdurrahman Wahid sudah mengenal tokoh-tokoh politik tersebut.
Pada usia 13 tahun, Abdurrahman Wahid kehilangan ayahnya, dan hidup sebagai anak yatim. Wahid Hisyam, ayahanda Abdurrahman Wahid meninggal dunia pada usia 38 tahun karena kecelakaan kendaraan. Kepergian ayahnya ini telah menimbulkan beban psikologis yang mendalam bagi Abdurrahman Wahid. Ia harus sudah ikut bertanggung jawab bagi masa depan dan keluarganya dan Nahdatul Ulama. Rumah orang tuanya yang biasanya ramai dikunjungi pada tamu-tamu penting, setelah meninggal orang tuanya, tamu-tamu penting tersebut tidak ada lagi.
Mengenai riwayat pendidikanya, Abdurrahman Wahid mulai menuntut ilmu di sekolah dasar (SD) di Jakarta. Setelah itu ia melanjutkan pendidikanya kesekolah menengah ekonomi petama (SMEP) di tanah abang. Selama belajar di SEMP Yogyakarta, Abdurrahman Wahid bertemu dengan seorang guru bahasa inggris, bernama Rufi’ah. Melalui guru ini, Abdurrahman Wahid belajar bahasa asing, dan banyak berkenalan dengan buku-buku tentang komunis , seperti Das Kapil, Karya Karl Marx,Filsafat Plato,Thales,Novel-novel Walliam Bochner dan Romantisme Revolusioner, karangan Lenin Vladimir Ilyeh (1870-1924).
Setelah menamatkan pendidikanya di SEMP, Abdurrahman Wahid banyak menghabiskan waktunya untuk belajar di pesantren yang berada dibawah naungan Nahdatul Ulama. Selain itu pada tahun 1959-1963, Abdurrahman Wahid menimba ilmu di Muallimat Bahrul Ulum, Tambak Beras, Jombang, Jawa Timur. Setelah itu ia mondok di pesantern Krapyak,Yogyakarta dan tinggal di rumah seorang tokoh terkemuka yaitu K.H. Ali Maksum.
Selanjutnya pada tahun 1964, ia berangkat ke mesir untuk menimba ilmu di Universitas Al-Azhar, Kairo sampai tahun 1966. Kerena merasa tidak puas dengan sitem pengajaran di Al-Azhar tersebut, maka pada tahun 1966-1970 ia meninggalkan Kairo untuk melanjutkan studinya di Fakultas seni Unversitas Baghdad. Abdurrahman Wahid mulai tampil sebagai seorang muslim yang modernis. Ia sudah mulai mengajukan gagasan tentang perlunnya penafsiran kembali ajaran Islam, serta mengubah pendidikan dan pengajaaran Islam yang sesuai dengan tentangan zama dan perkembangan ilmu pengetahuan.
Sekembalinya ke Indonesia, Abdurrahman Wahid kembali kepesantren milik kakeknya. Kerena kemampuanya dalam bidang ilmu Agama Islam dan ilmu pengetahuan yang lainya, maka pada tahun 1972-1974, ia diangkat menjadi dosen dan sekaligus menjabat sebagai Dekan Fakultas Ushuluddin Universitas Hasyim Asy’Ari, Jombang.
Dengan melihat latar belakang hidupnya sebagai mana tersebut diatas, tanpak kesulitan bagi kita untuk memberikan predikat yang pas dan tepat bagi Abdurrahman Wahid. Sebagian ada yang berpendapat bahwa Abdurrahman Wahid adalah seorang tokoh yang besar bertarap internasioal yang memiliki banyak kemampuan. Padanya terdapat keahlian dalam bidang ilmu Agama Islam bertarap Ulama besar, Kyai, Wali da juga terdapat keahlian dalam bidang ilmu pengertahuan umum dan pedidikan modern yang demikian luas.
b.      Gagasan dan Pemikiranya
1)      Islam
manusia sangat membutuhkan agama. tanpa agama ia belum menjadi manusia yang utuh. hanya turut serta dalam tradisi yang berupa petunjuk tuhan tentang cara hidup dan berfikir, dapat membawa manusia kepada kesadaran tenang artinya diri dan kehidupannya. hanya tradisi dalam arti inilah yang dapat memberikan makna bagi eksisitensi manusia. ahli – ahli piker abad kencana dan rasionalisme yang menolak agama, tidak menyadari kebutuhan manusia akan agama, dan tidak dapat menduga sebelumnya bahwa setelah dipisahkan dari agama, manusia menjadi semakin gelisah dan mulai menciptakan agama semu  (pseudo religion) dan elektisisme spiritual yang berbahaya, yang tumbuh di mana- mana selama satu atau dua abad terakhir.
Nama “Islam” menggambarkan hal ini dengan jelas. Akar kata “salama” darimana Islam diturunkan, mempunyai dua arti, yaitu kedamaian, dan penyerahan, bahwa melalui penggunaan akal, manusia akhirnya menyerahkan diri kepada Yang Maha Kuasa. Inilah arti dari pada muslim: seorang yang secara bebas, telah memilih untuk menyesuaikan kehendaknya dengan kehendak Tuhan.
 Islam selain merupakan agama awal, juga menjadi agama terakhir. Dengan mengulang ajaran semua Nabi, Islam menonjolkan sifatnya yang universal dan menempatkan dirinya sebagai agama yang utama. Pengakuan ini, yang tidak pernah diajukan oleh agama ortodoks lain sebelum Islam, membedakannya dari agama lain dan memberikan bentuk spesifik. Sesungguhnya tidak ada agama lain yang dapat menyamai Islam sebagai agama yang universal.[10]
Islam didasarkan pada hubungan yang universal antara tuhan dengan manusia. Tuhan di dalam kemutlakkan - Nya dan manusia dalam bentuk theomorfits. Hubungan ini didasarkan kepada pada akal, kehendak dan kemampuan  berbicara, serta pada keseimbangan dan kepastian. Dan dengan keseimbangan ini sebagai dasar, islam memungkinkan manusia untuk membangun dunia spiritual yang didasarkan pada renungan dan kepastian tentang keesaan Tuhan.  
Abdurrahman Wahid mengajukan ide “Pribumisasi Islam”. Ide tersebut dimaksudkan sebagai usaha untuk melakukan pemahaman terhadap nash dikaitkan dengan masalah dinegara kita. Pada tingkat yang lebih abstrak (konseptual),  pribumisasi ini sebenarnya tidak lain adalah usaha kontekstualisasi ajaran Islam. Usaha primubisasi ini, dalam arti yang paling luas, menjiwai hampir seluruh pemikiran ulang tentang Islam.
 Bagi Abdurrahman Wahid, pribumisasi adalah upaya rekonsiliasi antara budaya dan agama. Namun hal ini tidak dimaksudkan sebagai upaya jawanisasi atau sinkritasi ajaran Islam. Abdurrahman Wahid menyatakan bahwa pribumisasi Islam bukanlah upaya meninggalkan norma demi budaya, tetapi agar norma-norma itu mampu menampung kebutuhan-kebutuhan budaya dengan mempergunakan peluang yang disediakan oleh variasi pemahaman nash, dan tetap memberikan peranan kepada ushul figh dan keidah figh.
Titik tolak upaya rekonsiliasi itu menurut Abdurrahman Wahid adalah menuntut agar wahyu dipahami dengam mempertimbangkan faktor-faktor kontekstual, termasuk kesadaran hukum dan rasa keadilanya. Abdurrahman Wahid memberikan batasan mengenai sejauh mana kewenangan usaha  pribumisasi “dalam proses ini, pembaharuan Islam dengan budaya tidak boleh terjadi sebab berbaur berarti hilangnya sifat-sifat asli”.
Beberapa argumen Abdurrahman wahid dalam mempertahankan tawaran pribumisasi Islam yaitu sebagai berikut:
a)      Alasan historis, bahwa pribumisasi Islam merupakan bagian sejarah Islam, baik dari negri asalnya maupun negri lain, termasuk indonesia.
b)      Proses pribumisasi Islam terkait erat antara figh dan adat. dalam kaidah figh dikenal misalnya, Al-‘Adah Muhakkamah (adat istiadat menjadi hukum).[11]
2)      Politik
Pada saat indonesia masuk kedalam era reformasi atau menjelang pemilu 1999 Gus Dur kembali mengubah cakrawala berfikirnya mengenai keterlibatan NU dengan politik. Ia menyatakan PKB merupakan anak kandung NU dan setiap terdapat persoalan PKB para kiai langitan NU senantiasa dilibatkan dalam memecahkan masalah persoalan partai.
Partai kebangkitan bangsa mengantarakan Gus Dur ke kursi presiden, walaupun hanya berlangsung tidak sampai 2 tahun dan jabatanya sebagai pimpinan NU digantikan oleh K.H Hayim Muyadi. Pada tahun 2004 melalui PKB ia berusaha kembali ke istana.
Sejauh ini beberapa catatan umum tentang gagasan pemikirannya, gebrakan dan keterlibata Gus Dur yang tampil merumuskan gerakan umat Islam dalam isu-isu kontemporer, ia merupakan tokoh yang berani, kritis, berwawasan dan sagat akomodatif.  Hanya saja ia tidak konsisten pada apa yang diungkapkan dan dengan apa yang dilakukan. Sebagai contoh ia menyatakan NU kembali lagi pada kancah politik.[12]
3)      Negara
Menurut Gus Dur umat Islam Indonesia tidak sekedar mampu mengindonesia tetapi juga mendunia. Oleh sebab itu refleksi wujud toleransi sangat luar biasa, bahkan mengalahkan sikap-sikap toleransi yang selam ini pernah dicerminkan oleh tokoh muslim selama ini, begitu juga keteguhan pendirian dan sikap demokrasinya yang amat tinggi terhadap perbedaan paham, keagamaan dan sebagainya yang mungkin selama ini tidak ada tolak bandingnya bagi seorang tokoh kiai setaraf Gus Dur. Abdurrahman Wahid memang seorang yang mempunyai loyalitas kebangsaan dan keindonesian yang tinggi.
Ada beberapa pemikiran Gus Dur yang di anggap maju, baru orisional tentang umat dan nilai Islam di Indonesia. Ide-idenya diantaranya sebagai berikut:
a)      Umat Islam Indonesia tidak hanya sekedar mampu mengindonesia, tapi juga mendunia. Oleh sebab itu, refleksi wujud toleransi sangat luar biasa, bahkan mengalahkan sikap-sikap toleransi yang selama ini tidak pernah ada tolok bandingnya bagi seorang muslim. Begitu juga keteguhan pendirian dan sikap demokrasinya yang amat tinggi terhadap perbedaan paham,keagamaan,dan sebagainya.
b)      Douglas E. Ramage, melukiskan sosok Gus Dur merupakan seorang pancasila sejati dan amat murni dalam membela dan mempertahankan nilai kepentingan pancasila.
Dalam konteks agenda-agenda untuk mempertimbangkan situasi lokal dan setempat, Gus Dur menyuarakan gagasan tentang (1) Islam sebagai faktor komplementer dalam kehidupan sosial cultural dan politik indonesia dan (2) pribumisasi Islam.
Dimensi pertama gagasan adalah seruan rekan-rekannya sesama muslim utuk tidak menjadikan islam sebagai suatu deologi alternatif terhadap konstruk Negara bangsa indonesia yang ada sekarang. Dalam pandangan sebagai satu komponen pentig dari struktur sosial indonesia, Islam tidak boleh menempatkan dirinya dalam posisi yang bersaing, Vis a Vis komponen-komponen lainya.
Mekipun demikian, tidak berarti Gus Dur menentang peran Islam dalam Negara. Dalam hal ini kepedulian utama sebenar-benarnya adalah kesamaan hak da kewajiban diantara seluruh kelompok sosial politik yang ada di Indonesia. Aspek kedua di gagasan  Gus Dur adalah mengingatkan  mengenai sperlunya kaum muslim untuk mempertimbangkan situasi sosial lokal dalam rangka penerapan ajaran-ajaran Islam.
 Dengan demikian diharapkan bahwa islam indonesia tercerabut dalam konteks lokalnya sendiri, yakni kebudayaan, tradisi dan lain sebgainya. Ketika menjelaskan apa yang dimaksud dengan pribumisasi Islam, ia menulis, pribumisasi Islam bukanlah jawanisasi atau sinkritisme, sebab pribumisasi Islam hanya mempertimbangkan kebutuhan-kebutuhan lokal indonesia di dalam merumuskan hukum-hukum Agama tanpa mengubah hukum itu sendiri.


C.    PENUTUP
Nurcholis Madjid dikenal luas di kalangan terpelajar sebagai orang yang mengangkat isu modernisme dalam bentuk agak radikal. dan tokoh yang sangat berpengaruh dalam pemikiran pembaharuan di Indonesia. yang mana para tokoh – tokoh sebelumnya masih berpikiran sempit tentang islam. nurcholis majid menjelaskan bahwa Indonesia tini tidak perlu dijadikan negara islam. akan tetapi hokum- hukumnya lah yang harus mengacu kepada islam. disamping umat islam bisa memakai aturan terebut, agama lain juga bisa mematuhinya. 
Abdurrahman Wahid ini hidup dikalangan pesantern yang mana adalah keturunan kyai. oleh karena itu gusdur ini menyatakan ide pribumi islamnya. pribumi yang artinya upaya rekonsiliasi antara budaya dan agama.
a.       saran
berdasarkan uraian kedua tokoh pembaharu islam di Indonesia yaitu dr. nurcholish madjid dan kyai h Abdurrahman wahid. negar Indonesia ini adalah Negara yang banyak agama dan suku – suku bangsa. untuk mewujudkan Negara islam saja itu tidak di haruskan. akan tetapi agar lebih baiknya jika Negara Indonesia itu terdapat nilai- nilai islam. dan juga bisa dilakukan dan dimanfaatkan oleh orang yang beragama selain islam. agar terwujudnya Negara islam yang makmur dan demokratis.





DAFTAR PUSTAKA
Nata Abudin, Tokoh-tokoh pembaharuan pendidikan islam indonesia,(Jakarta:PT Raja Grafindo Persada,2005)
Umar Bukhari,  Pemikiran Pendidikan Islam,(Batusangkar:STAIN Batusangkar Press,2007 )
Taufik Ahmad, Sejarah Pemikiran dan tokoh modernisme islam,(Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,2005)
Sani Abdul, Lintas sejarah pemikiran perkembangan modern dalam  islam,(Jakarta:Raja Wali Pers,1998)

Qodir Abdul, Jejak Langkah Pembaharuan Pemikiran Islam Di Indonesia,(Bandung:CV Pustaka Setia,2004)

Madjid, Nurcholish. 1998. Dialog Keterbukaan Artikulasi Nilai Islam dalam Wacana Social Politik Kontemporer. Jakarta : Paramadina.

Madjid , Nurcholish. 1999. Cendekiawan &Religiusitas Masyarakat Kolom- Kolom di Tabloid terdekad. Jakarta : Penerbit Paramadina.

Abdurrahman Wahid & Hasim Wahid. 1983. Islam dalam Cita dan Fakta. Jakarta : Panca Gemilang Indah.

Nurcholish Madjid. 1997. Perjalanan Religious Umrah dan Haji. Jakarta: Paramadina .




[1] Abudin Nata, Tokoh-Tokoh Pembaharuan Pendidikan Islam Indonesia,(Jakarta:PT Raja Grafindo Persada, 2005) h, 322-324. Cet.1-3
[2] Ibid, h.325
[3] Bukhari  Umar, Pemikiran Pendidikan Islam, (Batusangkar: STAIN Batusangkar Press, 2007 ) h. 145
[4] Op.Cit, Abudin Nata, h.326-334
[5] Nurcholish Madjid. 1997. Perjalanan Religious Umrah dan Haji. Jakarta: Paramadina . Hal 88
[6] Ahmad Taufik, Sejarah Pemikiran dan tokoh modernisme islam,(Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,2005) h. 151
[7] Nurcholish Madjid. 1999. Cendekiawan & Religiusitas Masyarakat Kolom- Kolom di Tabloid Tekad. Jakarta : Penerbit Paramadina. Hal 50- 52
[8] Nurcholish Madjid. 1998. Dialog Keterbukaan Artikulasi Nilai Islam Dalam Wacana Sosial Politik Kontemporer. Jakarta : Paramadina. Hal. 172- 173
[9] Abdul Sani, Lintas Sejarah Pemikiran Perkembangan Modern dalam  Islam, (Jakarta: Raja Wali Pers, 1998) H.245
[10] Abdurrahman wahid & hasim wahid. 1983. islam dalam cita dan fakta. Jakarta : panca gemilang indah. hal 9- 20
[11] Abdul Qodir, Jejak Langkah Pembaharuan Pemikiran Islam Di Indonesia, (Bandung: PT Pustaka Setia, 2004).H.76
[12] Ahmad Taufik, Op-Cit . hal.179

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar